Fenomena ini dapat disebut sebagai Sakau Digital: kondisi ketika seseorang mengalami dorongan kuat, berulang, dan sulit dikendalikan untuk terus berinteraksi dengan perangkat digital, meskipun tidak lagi memberikan manfaat yang nyata dalam hidupnya. Istilah ini memang bukan istilah medis resmi, namun cukup tepat untuk menggambarkan realitas yang sedang terjadi secara luas.
Dalam kajian psikologi modern, kondisi ini memiliki kemiripan dengan konsep Behavioral Addiction—yaitu kecanduan yang tidak melibatkan zat, tetapi tetap
memiliki pola ketergantungan yang kuat. Seseorang
tidak mengonsumsi sesuatu secara fisik, namun pikirannya terus “dikonsumsi” oleh rangsangan digital yang tidak pernah berhenti.
Setiap notifikasi, setiap konten baru, setiap interaksi kecil di layar memicu pelepasan Dopamine di dalam otak. Zat ini memberi rasa senang yang cepat, ringan, dan mudah diakses. Masalahnya bukan pada dopamine itu sendiri, melainkan pada bagaimana manusia mulai bergantung pada pola kesenangan instan ini.
Akhirnya, seseorang tidak lagi membuka ponsel karena perlu, tetapi karena dorongan yang tidak disadari. Bukan karena ada tujuan, tetapi karena ada kebutuhan yang tidak bisa dijelaskan. Inilah titik di mana penggunaan berubah menjadi ketergantungan.
